Jumat, 24 Juni 2011

ASKEP PERIOPERATIF


Asuhan Keperawatan Perioperatif

PENGERTIAN
Perawatan pre operatif merupakan tahap pertama dari perawatan perioperatif yang dimulai sejak pasien diterima masuk di ruang terima pasien dan berakhir ketika pasien dipindahkan ke meja operasi untuk dilakukan tindakan pembedahan.
Perawatan intra operatif dimulai sejak pasien ditransfer ke meja bedah dan berakhir bila pasien di transfer ke wilayah ruang pemulihan.
Perawatan post operasi merupakan tahap lanjutan dari perawatan pre dan intra operatif yang dimulai saat klien diterima di ruang pemulihan / pasca anaestesi dan berakhir sampai evaluasi selanjutnya
II. PRE OPERATIF
Persiapan pembedahan dapat dibagi menjadi 2 bagian, yang meliputi persiapan psikologi baik pasien maupun keluarga dan persiapan fisiologi (khusus pasien).
A. Persiapan Psikologi
Terkadang pasien dan keluarga yang akan menjalani operasi emosinya tidak stabil. Hal ini dapat disebabkan karena :
  1. Takut akan perasaan sakit, narcosa atau hasilnya.
  2. Keadaan sosial ekonomi dari keluarga.
Penyuluhan merupakan fungsi penting dari perawat pada fase pra bedah dan dapat mengurangi cemas pasien. Hal-hal dibawah ini penyuluhan yang dapat diberikan kepada pasien pra bedah.
  1. Penjelasan tentang peristiwa
Informasi yang dapat membantu pasien dan keluarganya sebelum operasi :
- Pemeriksaan-pemeriksaan sebelum operasi (alasan persiapan).
- Hal-hal yang rutin sebelum operasi.
- Alat-alat khusus yang diperlukan
- Pengiriman ke ruang bedah.
- Ruang pemulihan.
- Kemungkinan pengobatan-pengobatan setelah operasi :
  • Perlu peningkatan mobilitas sedini mungkin.
  • Perlu kebebasan saluran nafas.
  • Antisipasi pengobatan.
  1. Bernafas dalam dan latihan batuk
  2. Latihan kaki
  3. Mobilitas
  4. Membantu kenyamanan
B. Persiapan Fisiologi
  1. Diet
8 jam menjelang operasi pasien tidak diperbolehkan makan, 4 jam sebelum operasi pasien tidak diperbolehkan minum, (puasa) pada operasi dengan anaesthesi umum.
Pada pasien dengan anaesthesi lokal atau spinal anaesthesi makanan ringan diperbolehkan. Bahaya yang sering terjadi akibat makan/minum sebelum pembedahan antara lain :
- Aspirasi pada saat pembedahan
- Mengotori meja operasi.
- Mengganggu jalannya operasi.
  1. Persiapan Perut.
Pemberian leuknol/lavement sebelum operasi dilakukan pada bedah saluran pencernaan atau pelvis daerah periferal. Untuk pembedahan pada saluran pencernaan dilakukan 2 kali yaitu pada waktu sore dan pagi hari menjelang operasi.
Maksud dari pemberian lavement antara lain :
- Mencegah cidera kolon
- Memungkinkan visualisasi yang lebih baik pada daerah yang akan dioperasi.
- Mencegah konstipasi.
- Mencegah infeksi.
  1. Persiapan Kulit
Daerah yang akan dioperasi harus bebas dari rambut. Pencukuran dilakukan pada waktu malam menjelang operasi. Rambut pubis dicukur bila perlu saja, lemak dan kotoran harus terbebas dari daerah kulit yang akan dioperasi. Luas daerah yang dicukur sekurang-kurangnya 10-20 cm2.
  1. Hasil Pemeriksaan
Meliputi hasil laboratorium, foto roentgen, ECG, USG dan lain-lain.
  1. Persetujuan Operasi / Informed Consent
Izin tertulis dari pasien / keluarga harus tersedia. Persetujuan bisa didapat dari keluarga dekat yaitu suami / istri, anak tertua, orang tua dan kelurga terdekat.
Pada kasus gawat darurat ahli bedah mempunyai wewenang untuk melaksanakan operasi tanpa surat izin tertulis dari pasien atau keluarga, setelah dilakukan berbagai usaha untuk mendapat kontak dengan anggota keluarga pada sisa waktu yang masih mungkin.
C. Persiapan Akhir Sebelum Operasi Di Kamar Operasi (Serah terima dengan perawat OK)
1. Mencegah Cidera
Untuk melindungi pasien dari kesalahan identifikasi atau cidera perlu dilakukan hal tersebut di bawah ini :
  1. Cek daerah kulit / persiapan kulit dan persiapan perut (lavement).
  2. Cek gelang identitas / identifikasi pasien.
  3. Lepas tusuk konde dan wig dan tutup kepala / peci.
  4. Lepas perhiasan
  5. Bersihkan cat kuku.
  6. Kontak lensa harus dilepas dan diamankan.
  7. Protesa (gigi palsu, mata palsu) harus dilepas.
  8. Alat pendengaran boleh terpasang bila pasien kurang / ada gangguan pendengaran.
  9. Kaus kaki anti emboli perlu dipasang pada pasien yang beresiko terhadap tromboplebitis.
  10. Kandung kencing harus sudah kosong.
  11. Status pasien beserta hasil-hasil pemeriksaan harus dicek meliputi ;
- Catatan tentang persiapan kulit.
- Tanda-tanda vital (suhu, nadi, respirasi, TN).
- Pemberian premedikasi.
- Pengobatan rutin.
- Data antropometri (BB, TB)
- Informed Consent
- Pemeriksan laboratorium.
2. Pemberian Obat premedikasi
Obat-obat pra anaesthesi diberikan untuk mengurangi kecemasan, memperlancar induksi dan untuk pengelolaan anaesthesi. Sedative biasanya diberikan pada malam menjelang operasi agar pasien tidur banyak dan mencegah terjadinya cemas.
i. Pengkajian Keperawatan Pra Bedah
A. Data Subyektif
  1. Pengetahuan dan Pengalaman Terdahulu.
    1. Tempat
    2. Bentuk operasi yang harus dilakukan.
    3. Informasi dari ahli bedah lamanya dirawat dirumah sakit, keterbatasan setelah di bedah.
    4. Kegiatan rutin sebelum operasi.
    5. Kegiatan rutin sesudah operasi.
    6. Pemeriksaan-pemeriksaan sebelum operasi.
  2. Bentuk, sifat, roentgen
  3. Jangka waktu
  1. Pengertian tentang bedah yang duanjurkan
  1. Pengalaman bedah terdahulu
  1. Kesiapan Psikologis Menghadapi Bedah
  1. Penghayatan-penghayatan dan ketakutan-ketakutan menghadapi bedah yang dianjurkan.
  2. Metode-metode penyesuaian yang lazim.
  3. Agama dan artinya bagi pasien.
  4. Kepercayaan dan praktek budaya terhadap bedah.
  5. Keluarga dan sahabat dekat
- Dapat dijangkau (jarak)
- Persepsi keluarga dan sahabat sebagai sumber yang memberi bantuan.
  1. Perubahan pola tidur
  2. Peningkatan seringnya berkemih.
  1. Status Fisiologi
  1. Obat-obat yang dapat mempengaruhi anaesthesi atau yang mendorong komplikasi-komplikasi pascabedah.
  2. Berbagai alergi medikasi, sabun, plester.
  3. Penginderaan : kesukaran visi dan pendengaran.
  4. Nutrisi : intake gizi yang sempurna (makanan, cairan) mual, anoreksia.
  5. Motor : kesukaran ambulatori, gerakan tangan dan kaki, arthritis, bedah orthopedi yang terdahulu (penggantian sendi, fusi spinal).
  6. Alat prothesa : gigi, mata palsu, dan ekstremitas.
  7. Kesantaian : bisa tidur, terdapat nyeri atau tidak nyaman, harapan mengenai terbebas dari nyeri setelah operasi.
B. Data Obyektif
  1. Pola berbicara : mengulang-ulang tema, perubahan topik tentang perasaan (cemas), kemampuan berbahasa Inggris.
  2. Tingkat interaksi dengan orang lain.
  3. Perilaku : gerakan tangan yang hebat, gelisah, mundur dari aktifitas yang sibuk (cemas).
  4. Tinggi dan berat badan.
  5. Gejala vital.
  6. Penginderaan : kemampuan penglihatan dan pendengaran.
  7. Kulit : turgor, terdapat lesi, merah atau bintik-bintik.
  8. Mulut : gigi palsu, kondisi gigi dan selaput lendir.
  9. Thorak : bunyi nafas (terdapat, sisanya) pemekaran dada, kemampuan bernafas dengan diafragma, bunyi jantung (garis dasar untuk perbandingan pada pasca bedah).
  10. Ekstremitas : kekuatan otot (terutama) kaki, karakteristik nadi perifer sebelum bedah vaskuler atau tubuh.
  11. Kemampuan motor : adalah keterbatasan berjalan, duduk, atau bergerak di tempat duduk, koordinasi waktu berjalan.
ii. Masalah Keperawatan Yang Lazim Muncul
  1. Takut
  2. Cemas
  3. Resiko infeksi
  4. Resiko injury
  5. Kurang pengetahuan
III. INTRA OPERATIF
i. Anggota Tim Asuhan Keperawatan Intra Operatif
Anggota tim asuhan pasien intra operatif biasanya di bagi dalam dua bagian. Berdasarkan kategori kecil terdiri dari anggota steril dan tidak steril :
  1. Anggota steril
    1. Ahli bedah utama / operator
    2. Asisten ahli bedah.
    3. Scrub Nurse / Perawat Instrumen
    4. Anggota tim yang tidak steril, terdiri dari :
      1. Ahli atau pelaksana anaesthesi.
      2. Perawat sirkulasi
      3. Anggota lain (teknisi yang mengoperasikan alat-alat pemantau yang rumit).
ii. Prinsip Tindakan Keperawatan Selama Pelaksanaan Operasi.
A. Persiapan Psikologis Pasien
B. Pengaturan Posisi
§Posisi diberikan perawat akan mempengaruhi rasa nyaman pasien dan keadaan psikologis pasien.
§Faktor yang penting untuk diperhatikan dalam pengaturan posisi pasien adalah :
  1. Letak bagian tubuh yang akan dioperasi.
  2. Umur dan ukuran tubuh pasien.
  3. Tipe anaesthesia yang digunakan.
  4. Sakit yang mungkin dirasakan oleh pasien bila ada pergerakan (arthritis).
§Prinsip-prinsip didalam pengaturan posisi pasien :
  1. Atur posisi pasien dalam posisi yang nyaman.
  2. Sedapat mungkin jaga privasi pasien, buka area yang akan dibedah dan kakinya ditutup dengan duk.
  3. Amankan pasien diatas meja operasi dengan lilitan sabuk yang baik yang biasanya dililitkan diatas lutut. Saraf, otot dan tulang dilindungi untuk menjaga kerusakan saraf dan jaringan.
  4. Jaga pernafasan dan sirkulasi vaskuler pasien tetap adekuat, untuk meyakinkan terjadinya pertukaran udara.
  5. Hindari tekanan pada dada atau bagain tubuh tertentu, karena tekanan dapat menyebabkan perlambatan sirkulasi darah yang merupakan faktor predisposisi terjadinya thrombus.
  6. Jangan ijinkan ekstremitas pasien terayun diluar meja operasi karena hal ini dapat melemahkan sirkulasi dan menyebabkan terjadinya kerusakan otot.
  7. Hindari penggunaan ikatan yang berlebihan pada otot pasien.
  8. Yakinkan bahwa sirkulasi pasien tidak berhenti ditangan atau di lengan.
  9. Untuk posisi litotomi, naikkan dan turunkan kedua ekstremitas bawah secara bersamaan untuk menjaga agar lutut tidak mengalami dislokasi.
  10. Pengkajian psikososial
  1. Membersihkan dan Menyiapkan Kulit.
  2. Penutupan Daerah Steril
  3. Mempertahankan Surgical Asepsis
  4. Menjaga Suhu Tubuh Pasien dari Kehilangan Panas Tubuh
  5. Monitor dari Malignant Hyperthermia
  6. Penutupan luka pembedahan
  7. Perawatan Drainase
  8. Pengangkatan Pasien Ke Ruang Pemulihan, ICU atau PACU.
iii. Pengkajian
  1. Sebelum dilakukan operasi
- Perasaan takut / cemas
- Keadaan emosi pasien
  1. Pengkajian Fisisk
- Tanda vital : TN, N, R, Suhu.
- Sistem integumentum
  • Pucat
  • Sianosis
  • Adakah penyakit kulit di area badan.
- Sistem Kardiovaskuler
  • Apakah ada gangguan pada sisitem cardio ?
  • Validasi apakah pasien menderita penyakit jantung ?
  • Kebiasaan minum obat jantung sebelum operasi.
  • Kebiasaan merokok, minum alcohol
  • Oedema
  • Irama dan frekuensi jantung.
  • Pucat
- Sistem pernafasan
  • Apakah pasien bernafas teratur ?
  • Batuk secara tiba-tiba di kamar operasi.
- Sistem gastrointestinal
  • Apakah pasien diare ?
- Sistem reproduksi
§ Apakah pasien wanita mengalami menstruasi ?
- Sistem saraf
  • Kesadaran ?
- Validasi persiapan fisik pasien
§ Apakah pasien puasa ?
§ Lavement ?
§ Kapter ?
§ Perhiasan ?
§ Make up ?
§ Scheren / cukur bulu pubis ?
§ Pakaian pasien / perlengkapan operasi ?
§ Validasi apakah pasien alaergi terhadap obat ?
  1. Selama dilaksanakannya operasi
Hal-hal yang dikaji selama dilaksanakannya operasi bagi pasien yang diberi anaesthesi total adalah yang bersifat fisik saja, sedangkan pada pasien yang diberi anaesthesi lokal ditambah dengan pengkajian psikososial.
Secara garis besar hal-hal yang perlu dikaji adalah :
  1. Pengkajian mental
Bila pasien diberi anaesthesi lokal dan pasien masih sadar / terjaga maka sebaiknya perawat menjelaskan prosedur yang sedang dilakukan terhadapnya dan memberi dukungan agar pasien tidak cemas/takut menghadapi prosedur tersebut.
  1. Pengkajian fisik
- Tanda-tanda vital
(Bila terjadi ketidaknormalan tanda-tanda vital dari pasien maka perawat harus memberitahukan ketidaknormalan tersebut kepada ahli bedah).
- Transfusi
(Monitor flabot transfusi sudah habis apa belum. Bila hampir habis segera diganti dan juga dilakukan observasi jalannya aliran transfusi).
- Infus
(Monitor flabot infuse sudah habis apa belum. Bila hampir habis harus segera diganti dan juga dilakukan observasi jalannya aliran infuse).
- Pengeluaran urin
Normalnya pasien akan mengeluarkan urin sebanyak 1 cc/kg BB/jam.
MASALAH KEPERAWATAN YANG LAZIM MUNCUL
Diagnosa keperawatan yang mungkin sering muncul pada pasien selama pelaksanaan operasi adalah sebagai berikut :
  1. Cemas
    1. Resiko perlukaan/injury
    2. Resiko penurunan volume cairan tubuh
    3. Resiko infeksi
    4. Kerusakan integritas kulit
iv. Fase Pasca Anaesthesi
Periode segera sesudah anaesthesi adalah gawat. Pasien harus diamati dengan jeli dan harus mendapat bantuan fisik dan psikologis yang intensif sampai pengaruh utama dari anaesthesi mulai berkurang dan kondisi umum mulai stabil.
Banyaknya asuhan keperawatan yang dilaksanakan segera setelah periode pasca anaesthesi tergantung kepada prosedur bedah yang dilakukan. Hal-hal yang harus diperhatikan meliputi :
  1. Mempertahankan ventilasi pulmonari
  1. Berikan posisi miring atau setengah telungkup dengan kepala tengadah kebelakang dan rahang didorong ke depan pada pasien sampai reflek-reflek pelindung pulih.
  2. Saluran nafas buatan.
Saluran nafas pada orofaring biasanya terpasang terus setelah pemberian anaesthesi umum untuk mempertahankan saluran tetap terbuka dan lidah kedepan sampai reflek faring pulih. Bila pasien tidak bisa batuk dan mengeluarkan dahak dan lendir harus dibantu dengan suction.
  1. Terapi oksigen
O2 sering diberikan pada pasca operasi, karena obat anaesthesi dapat menyebabkan lyphokhemia. Selain pemberian O2 harus diberikan latihan nafas dalam setelah pasien sadar.
  1. Mempertahankan sirkulasi.
Hipotensi dan aritmia adalah merupakan komplikasi kardiovaskuler yang paling sering terjadi pada pasien post anaesthesi.
Pemantauan tanda vital dilakukan tiap 15 menit sekali selama pasien berada di ruang pemulihan.
  1. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
Pemberian infus merupakan usaha pertama untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Monitor cairan per infus sangat penting untuk mengetahui kecukupan pengganti dan pencegah kelebihan cairan. Begitu pula cairan yang keluar juga harus dimonitor.
  1. Mempertahankan keamanan dan kenyamanan
Pasien post operasi atau post anaesthesi sebaiknya pada tempat tidurnya dipasang pengaman sampai pasien sadar betul. Posisi pasien sering diubah untuk mencegah kerusakan saraf akibat tekanan kepada saraf otot dan persendian.
Obat analgesik dapat diberikan pada pasien yang kesakitan dan gelisah sesuai dengan program dokter.
Pada pasien yang mulai sadar, memerlukan orientasi dan merupakan tunjangan agar tidak merasa sendirian. Pasien harus diberi penjelasan bahwa operasi sudah selesai dan diberitahu apa yang sedang dilakukan.
v. Perawatan Pasien Di Ruang Pemulihan/Recovery Room
Uraian diatas telah membahas tentang hal yang diperhatikan pada pasien post anaesthesi. Untuk lebih jelasnya maka dibawah ini adalah petunjuk perawatan / observasi diruang pemulihan :
  1. Posisi kepala pasien lebih rendah dan kepala dimiringkan pada pasien dengan pembiusan umum, sedang pada pasein dengan anaesthesi regional posisi semi fowler.
  2. Pasang pengaman pada tempat tidur.
  3. Monitor tanda vital : TN, Nadi, respirasi / 15 menit.
  4. Penghisapan lendir daerah mulut dan trakhea.
  5. Beri O2 2,3 liter sesuai program.
  6. Observasi adanya muntah.
  7. Catat intake dan out put cairan.
Beberapa petunjuk tentang keadaan yang memungkinkan terjadinya situasi krisis
- Tekanan sistolik < 90 –100 mmHg atau > 150 – 160 mmH, diastolik < 50 mmHg atau > dari 90 mmHg.
- HR kurang dari 60 x menit > 10 x/menit
- Suhu > 38,3 o C atau kurang dari 35 o C.
- Meningkatnya kegelisahan pasien
- Tidak BAK + 8 jam post operasi.
Pengeluaran dari ruang pemulihan / Recovery Room
Kriteria umum yang digunakan dalam mengevaluasi pasien :
  1. Pasien harus pulih dari efek anaesthesi.
  2. Tanda-tanda vital harus stabil.
  3. Tidak ada drainage yang berlebihan dari tubuh.
  4. Efek fisiologis dari obat bius harus stabil.
  5. Pasien harus sudah sadar kembali dan tingkat kesadaran pasien telah sempurna.
  6. Urine yang keluar harus adekuat ( 1cc/ Kg/jam). Jumlahnya harus dicatat dan dilaporkan.
  7. Semua pesan harus ditulis dan dibawa ke bangsal masing-masing.
  8. Jika keadaan pasien membaik, pernyataan persetujuan harus dibuat untuk kehadiran pasien tersebut oleh seorang perawat khusus yang bertugas pada unit dimana pasien akan dipindahkan.
  9. Staf dari unit dimana pasien harus dipindahkan, perlu diingatkan untuk menyiapkan dan menerima pasien tersebut.
Pengangkutan Pasien keruangan
Hal-hal yang harus diperhatikan selama membawa pasien ke ruangan antara lain :
- Keadaan penderita serta order dokter.
- Usahakan pasien jangan sampai kedinginan.
- Kepala pasien sedapat mungkin harus dimiringkan untuk menjaga bila muntah sewaktu-waktu, dan muka pasien harus terlihat sehingga bila ada perubahan sewaktu-waktu terlihat.
vi. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Post Operasi
A. Pengkajin awal
  1. Status Respirasi
Melipuiti :
- Kebersihan jalan nafas
- Kedalaman pernafasaan.
- Kecepatan dan sifat pernafasan.
- Bunyi nafas
  1. Status sirkulatori
Meliputi :
- Nadi
- Tekanan darah
- Suhu
- Warna kulit
  1. Status neurologis
Meliputi : tingkat kesadaran
  1. Balutan
Meliputi :
- Keadaan drain
- Terdapat pipa yang harus disambung dengan sistem drainage.
  1. Kenyamanan
Meliputi :
- Terdapat nyeri
- Mual
- Muntah
  1. Keselamatan
Meliputi :
- Diperlukan penghalang samping tempat tidur.
- Kabel panggil yang mudah dijangkau.
- Alat pemantau dipasang dan dapat berfungsi.
  1. Perawatan
Meliputi :
- Cairan infus, kecepatan, jumlah cairan, kelancaran cairan.
- Sistem drainage : bentuk kelancaran pipa, hubungan dengan alat penampung, sifat dan jumlah drainage.
  1. Nyeri
Meliputi :
- Waktu
- Tempat.
- Frekuensi
- Kualitas
- Faktor yang memperberat / memperingan
A. Data Subyektif
Pasien hendakanya ditanya mengenai gejala-gejala ketidaknyamanan setelah ditempatkan ditempat tidur dengan posisi tubuh yang menunjang. Pertanyaan-pertanyaan yang langsung misalnya :”Bagaimana perasaan anda?”, dapat memperlihatkan data mula dan nyeri tanpa memfokuskan pada daerah yang spesifik, dimana tidak ada keluhan. Penginderaan rasa nyeri sering kali meningkat pada waktu ini akibat pemindahan dari brankard ke tempat tidur. Sangat penting untuk mengetahui lokasi, bentuk serangan dan perubahan intensitas rasa nyeri, dan bukan menyangka bahwa nyeri berasal dari torehan.
Mual jarang timbul setelah pasca anaesthesi baru. Sangat besar kemungkinan terjadi mual bila perut mengalami manipulasi yang ekstensif pada waktu prosedur bedah atau telah mendapat narkotika yang cukup banyak.
B. Data Objektif
  1. Sistem Respiratori
  2. Status sirkulatori
  3. Tingkat Kesadaran
  4. Balutan
  5. Posisi tubuh
  6. Status Urinari / eksresi.
C. Pengkajian Psikososial
Yang perlu diperhatikan : umur, prosedur pembedahan, efek samping dari prosedur pembedahan dan pengobatan, body image dan pola/gaya hidup. Juga tanda fisik yang menandakan kecemasan termasuk denyut nadi, tekanan darah, dan kecepatan respirasi serta ekspresi wajah.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium berdasarkan pada prosedur pembedahan, riwayat medis, dan manifestasi klinik post operasi.
Pemeriksaan laboratorium lab post operasi secara umum anatara lain :
  1. Analisa serum dan elektrolit, glukosa dan pemeriksaaan darah lengkap.
  2. Pemeriksaann urine sekitar setiap 4 jam untuk klien dengan resiko dehidrasi dan insufisisensi ginjal.
Masalah Keperawatan Yang Lazim Muncul
A. Diagnosa Umum
a. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan efek samping dari anaesthesi.
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka post operasi.
c. Nyeri akut berhubungan dengan proses pembedahan.
d. Resiko injury berhubungan dengan kelemahan fisik, efek anaesthesi, obat-obatan (penenang, analgesik) dan imobil terlalu lama.
B. Diagnosa Tambahan
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret.
b. Resiko retensi urine berhubungan dengan anaesthesi, bedah pelvis, dan kurang gerak.
c. Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah memahami informasi.
d. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang prosedur pembedahan.
e. Nausea berhubungan dengan efek anaesthesi, narkotika, ketidaseimbangan elektrolit.
f. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri.
g. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksoia, lemah, nyeri, mual.
h. Konstipasi berhubungan dengan efek anaesthesi.

Lanjout baca . . . . >>

Rabu, 22 Juni 2011

DI BALIK LOGO PETERPAN


Sahabat semua tau kan logo dari Ariel, Uki, Lukman, Reza dan David ? Itu lhoo… yang gambarnya menyerupai bulu angsa. Kali ini saya ingin membahas mengenai apa sebenarnya arti dan nilai filosofis dibalik logo tersebut. Untuk itu saya sengaja menemui Bang Ucok sang pembuat logo yang karyanya dipakai oleh Ariel, Uki, Lukman, Reza dan David.

Apa sebenarnya yang mendasari pembuatan logo Peterpan menjadi logo yang seperti sekarang?

Sebenarnya awalnya Ariel sudah memberikan kisi-kisi apa yang dia inginkan untuk logonya. Dia ingin logo yang mengidentifikasikan nama “Peterpan”. Awalnya saya bingung juga karena yang saya tau Peter pan itu hanya sebuah dongeng, jadi awalnya gambarnya itu bulu yang ada di atas topi dari Peter pan. Tapi tidak jadi dipakai karena bentuknya jelek dan terlalu naif. Akhirnya saya kembangkan dan saya menawarkan suatu konsep bayangan yang gambarnya mirip dengan yang sekarang ada.

Lalu konsep tersebut idenya dari mana?

Saya ingin ada sesuatu yang identik dengan alam khayal, dari lirik-lirik lagu Peterpan. Tapi sebenarnya latar belakangnya banyak diambil dari lirik mereka karena mayoritas lirik mereka identik dengan alam khayal, imaginasi dan langit. Maka saya mengambil hal-hal yang tidak bersentuhan dengan bumi karena lirik mereka sendiri banyak yang lari dari bumi dan memberi inspirasi. Maka saya mengambil konsep “sayap” lalu di sederhanakan lagi menjadi “bulu” karena sayap tidak akan jadi apa-apa tanpa bulunya.

Pada saat sebelum pembuatan logo, saya dengar ada semacam “psycho test” untuk setiap personil?

Bisa dibilang “psycho test” tapi itu hanya test biasa saja, saya memang ingin tahu apa sebenarnya yang mereka inginkan. Apa yang mereka maksud dengan Peterpan dan apa yang mereka inginkan kedepannya. Saya memberi mereka masing-masing satu lembar kertas kosong dan mereka harus menulis apa yang ada di benak mereka ketika mereka membuat musik.

Sebentar lagi Peterpan akan mengganti nama, apakah akan ada perubahan juga dalam logonya?

Hmmm… bisa iya, bisa tidak. Yang pasti logo itu dibuat karena mereka dulu akan mengganti nama dan ingin mengikat image mereka dengan sesuatu. Dan yang paling memungkinkan adalah dengan gambar, maka ketika nanti namanya berubah, logonya akan tetap ada. Kalaupun ada pengembangan dari logo yang sekarang ada, tidak akan jauh dari logo dasar yang ada sekarang.


Nah itulah yang melatar belakangi logo yang kalian kenal selama ini dan apa cerita dibalik pembuatan logo tersebut.
Lanjout baca . . . . >>

Senin, 20 Juni 2011

PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH

PROSEDUR PEMERIKSAAN CONTOH DARAH

Pengertian :
Pemeriksaan penggolongan darah ABO dan Rhesus D dilakukan secara bersamaan terhadap contoh darah untuk persiapan penyediaan darah yang dibutuhkan.
Tujuan : Melakukan pemeriksaan golongan darah ABO dan Rhesus D terhadap contoh darah
Prosedur :

I. PERSIAPAN

Contoh darah penderita harus berupa darah beku yang berumur kurang dari 48 jam.
1.1 Tetapkan golongan darah ABO dan Rhesus (D) penderita.
1.2 Tentukan golongan darah ABO dan Rhesus donor. Bagi penderita Rh negative harus dicarikan darah donor Rh negative.
1.3 Bila golongan darah ABO dan Rh (D) penderita sama dengan donor, lakukan reaksi silang.
1.4 Reaksi silang mayor dan minor harus dilakukan lengkap dalam 3 fase:
Fase I : Fase suhu kamar (langsung diputar)
Fase II : Fase Inkubasi 37°C
Fase III : Fase Antiglobulin (Pemeriksaan Coombs).
1.1 Contoh darah penderita harus berupa darah beku yang berumur kurang dari 48 jam. Tetapkan golongan darah ABO dan Rhesus (D) penderita.
1.2 Tentukan golongan darah ABO dan Rhesus donor. Bagi penderita Rh negative harus dicarikan darah donor Rh negative.
1.3 Bila golongan darah ABO dan Rh (D) penderita sama dengan donor, lakukan reaksi silang.
1.4 Reaksi silang mayor dan minor harus dilakukan lengkap dalam 3 fase:
Fase I : Fase suhu kamar (langsung diputar)
Fase II : Fase Inkubasi 37°C
Fase III : Fase Antiglobulin (Pemeriksaan Coombs).

II. BAHAN

2.1 Bovin Albumin 22%
2.2 Serum Coombs
2.3 Sel Uji Coombs
2.4 Saline (NaCl 0,9%)
2.5 Contoh darah penderita
2.6 Contoh darah donor

III. ALAT ALAT

3.1 Tab reaksi gelas ukuran 10 x 75 mm atau 12 x 75 mm
3.2 Rak tabung
3.3 Pipet Pasteur
3.4 Kaca objek
3.5 Penangas air / Inkubator
3.6 Sentrifus
3.7 Mikroskop
3.8 Pengukur waktu (timer)

IV. PENGGOLONGAN ABO DAN Rh D






  1. Untuk penggolongan ABO, teknik larutan saline pada suhu ruang umumnya digunakan untuk tes sel dan tes penggolongan terbalik
  2. Antiserum Rh D beraneka ragam dalam metode penggunaannya. Beberapa reagen monoclonal menggunakan menggunakan teknik yang sama dengan reagen ABO. Antiserum Rh D yang lain harus diinkubasi pada suhu 37C sehingga umumnya lebih cocok untuk dipakai pada teknik tabung reaksi .
A. PENGGOLONGAN DARAH DONOR
Darah donor harus digolongkan setiap kali penyadapan donor dengan menggunakan anti-A, anti-B dan anti-AB untuk grup sel dan sel A, B serta O untuk grup penggolongan terbalik.
Paling tidak satu reagen anti-D harus digunakan. Sample yang memberikan hasil tes negative untuk anti-D, dapat dites lebih lanjut untuk Du menggunakan reagen khusus

B. PENGGOLONGAN DARAH PASIEN
Sel darah merah pasien harus dites dengan anti-A dan anti-B serta serum atau plasmanya harus dites dengan sel A, B dan O. satu anti-D harus digunakan. Meskipun sebenarnya tidak perlu untuk melakukan tes Du untuk sample negative, beberapa laboratorium mempunyai kebijakan untuk melakukannya.
Karena serum pada bayi tidak mengandung anti-A atau anti-B, tes penggolongan terbalik tidak perlu dilakukan untuk bayi dibawah umur 1 tahun.
Lanjout baca . . . . >>

ASKEP FRAKTUR FEMUR

FRAKTUR FEMUR
Ridho Irwanto

PENDAHULUAN
Batang femur dapat mengalami fraktur oleh trauma langsung, puntiran (twisting), atau pukulan pada bagian depan lutut yang berada dalam posisi fleksi pada kecelakaan jalan raya. Femur merupakan tulang terbesar dalam tubuh dan batang femur pada orang dewasa sangat kuat. Dengan demikian, trauma langsung yang keras, seperti yang dapat dialami pada kecelakaan automobil, diperlukan untuk menimbulkan fraktur batang femur. Perdarahan interna yang masif dapat menimbulkan renjatan berat.
Penatalaksanaan fraktur ini mengalami banyak perubahan dalam waktu 10 tahun terakhir ini. Traksi dan spica casting atau cast bracing, meskipun merupakan penatalaksanaan non-invasif pilihan untuk anak-anak, mempunyai kerugian dalam hal me-merlukan masa berbaring dan rehabilitasi yang lama; oleh karena itu, penatalaksanaan ini tidak banyak digunakan pada orang dewasa.
Prinsip penanganan untuk patah tulang adalah mengembalikan posisi patahan tulang ke posisi semula (reposisi) dan mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan patah tulang (imobilisasi). Cara imobilisasi dengan pin, sekrup, pelat atau alat lain (osteosintesis) merupakan langkah yang ditempuh bila cara non operatif seperti reposisi, gips, traksi dan manipulasi lainnya dirasa kurang memuaskan. Perlu diketahui, bahwa tidak semua dislokasi (posisi tulang yang bergeser dari tempat seharusnya) memerlukan reposisi untuk mencapai keadaan seperti sebelumnya karena tulang pun mempunyai mekanisme sendiri untuk menyesuaikan bentuknya agar kembali seperti bentuk semula (remodelling/swapugar).
Cara osteosintesis yang lazim digunakan adalah cara menurut Arbeisgemeinschaft für Osteosynthesefrage/AO yang mulai dikenal sekitar tahun 60an di Swiss, yang membuat luka patah tulang dapat sembuh tanpa pembentukan jaringan ikat dengan menggunakan fiksasi kuat bertekanan tinggi. Keuntungan dengan metode ini adalah gerakan dapat dimulai segera walaupun setelah setengah sampai dua tahun alat osteosintesis ini harus dikeluarkan yang membuat tempat fraktur tidak sekuat bila dibandingkan penyembuhan natural oleh tubuh sendiri (yaitu dengan pembentukan kalus).
Fiksasi bisa berupa fiksasi luar, fiksasi dalam, penggantian dengan prostesis dan lain-lain. Contoh fiksasi luar adalah penggunaan pin baja yang ditusukkan pada fragmen tulang untuk kemudian disatukan dengan batangan logam di luar kulit. Sedangkan fiksasi interna yang biasa dipakai berupa pen dalam sumsum tulang panjang atau plat dengan sekrup di permukaan tulang. Keuntungan cara ini adalah terjadi reposisi sempurna, tidak perlu dipasang gips serta bisa bergerak dengan segera. Namun mempunyai risiko infeksi tulang. Prostesis biasa digunakan untuk penderita patah tulang pada manula yang sukar menyambung kembali.
Beberapa metode terbaru adalah dengan cangkok tulang (INFUSE Bone Graft) yang penggunaannya telah disetujui Food and Drug Administration (semacam Badan POM milik Amerika Serikat) untuk penangangan patah tulang kering (Tibia) yang terbuka. Sebelumnya INFUSE Bone Graft hanya digunakan dalam operasi tulang belakang. Patah tulang kering yang terbuka cukup susah sembuh karena risiko infeksi dan kerusakan otot sekitar yang cukup tinggi. Namun dengan cangkok tulang ini, peluang pulih pun meningkat. Bahkan tidak perlu operasi kedua untuk memperbaiki patah tulang, yang biasa dilakukan berkali-kali pada metode lama. INFUSE Bone Graft menggunakan protein rhBMP-2 yang merupakan hasil rekayasa genetika dari protein manusia yang memacu pertumbuhan tulang.
Untuk penanganan patah tulang paha (femur) yang sering terjadi pada anak-anak umur 6-14 tahun, kini digunakan paku elastis dari titanium. Rumah sakit khusus anak di AS rata-rata menerima 40-50 kasus ini tiap tahunnya. Dimulai dari tahun 1996 untuk kemudian menjadi ramai digunakan tahun 2000, paku elastis dari titanium ini menggantikan metode lama dengan traksi, dengan biaya yang relatif sama namun anak dapat bergerak lebih cepat. Metode baru ini membuat anak bisa bangun dari tempat tidur 2 hari setelah operasi, keluar dari RS setelah 4 hari dan berjalan dengan tongkat penyangga dalam bebrapa minggu setelahnya. Hal ini membuat anak bisa kembali bersekolah setengah kali lebih cepat dibanding anak dengan metode lama yang butuh 3 minggu traksi dan 3-5 minggu tambahan dengan pembalut tubuh (body cast).
Paku elastis ini fleksibel sehingga bisa ditempatkan di antara tulang yang patah untuk menyangga selama masa penyembuhan. Paku ini mempunyai panjang 15-20 inchi dengan lebar hanya seukuran antena radio. Kadang diperlukan dua paku untuk kemudian diambil 6-9 bulan setelah operasi pertama.

DEFINISI

Rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang / osteoporosis.

FISIOLOGI / ANATOMI

Persendian panggul merupakan bola dan mangkok sendi dengan acetabulum bagian dari femur, terdiri dari : kepala, leher, bagian terbesar dan kecil, trokhanter dan batang, bagian terjauh dari femur berakhir pada kedua kondilas. Kepala femur masuk acetabulum. Sendi panggul dikelilingi oleh kapsula fibrosa, ligamen dan otot. Suplai darah ke kepala femoral merupakan hal yang penting pada faktur hip. Suplai darah ke femur bervariasi menurut usia. Sumber utamanya arteri retikuler posterior, nutrisi dari pembuluh darah dari batang femur meluas menuju daerah tronkhanter dan bagian bawah dari leher femur.

KLASIFIKASI

Ada 2 type dari fraktur femur, yaitu :
1. Fraktur Intrakapsuler femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul dan Melalui kepala femur (capital fraktur)
ü Hanya di bawah kepala femur
ü Melalui leher dari femur
2. Fraktur Ekstrakapsuler;
ü Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur yang lebih besar/yang lebih kecil /pada daerah intertrokhanter.
ü Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokhanter kecil.

PATOFISIOLOGI

A. Penyebab fraktur adalah trauma
Fraktur patologis; fraktur yang diakibatkan oleh trauma minimal atau tanpa trauma berupa yang disebabkan oleh suatu proses., yaitu :
ü Osteoporosis Imperfekta
ü Osteoporosis
ü Penyakit metabolik

TRAUMA

Dibagi menjadi dua, yaitu :
ü Trauma langsung, yaitu benturan pada tulang. Biasanya penderita terjatuh dengan posisi miring dimana daerah trokhanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan).
ü Trauma tak langsung, yaitu titik tumpuan benturan dan fraktur berjauhan, misalnya jatuh terpeleset di kamar mandi pada orangtua.

GAMBARAN KLINIS

Bagian paha yang patah lebih pendek dan lebih besar dibanding dengan normal serta fragmen distal dalam posisi eksorotasi dan aduksi karena empat penyebab:
1) Tanpa stabilitas longitudinal femur, otot yang melekat pada fragmen atas dan bawah berkontraksi dan paha memendek, yang menyebabkan bagian paha yang patah membengkak.
2) Aduktor melekat pada fragmen distal dan abduktor pada fragmen atas. Fraktur memisahkan dua kelompok otot tersebut, yang selanjutnya bekerja tanpa ada aksi antagonis.
3) Beban berat kaki memutarkan fragmen distal ke rotasi eksterna.
4) Femur dikelilingi oleh otot yang mengalami laserasi oleh ujung tulang fraktur yang tajam dan paha terisi dengan darah, sehingga terjadi pembengkakan (1,2,3).
Selain itu, adapun tanda dan gejalanya adalah :
ü Nyeri hebat di tempat fraktur
ü Tak mampu menggerakkan ekstremitas bawah
ü Rotasi luar dari kaki lebih pendek
ü Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah, bengkak, kripitasi, sepsis pada fraktur terbuka, deformitas.

KOMPLIKASI

a) Perdarahan, dapat menimbulkan kolaps kardiovaskuler.
Hal ini dapat dikoreksi dengan transfusi darah yang memadai.
b) Infeksi, terutama jika luka terkontaminasi dan debridemen tidak memadai.
c) Non-union, lazim terjadi pada fraktur pertengahan batang femur, trauma kecepatan tinggi dan fraktur dengan interposisi jaringan lunak di antara fragmen. Fraktur yang tidak menyatu memerlukan bone grafting dan fiksasi interna.
d) Malunion, disebabkan oleh abduktor dan aduktor yang bekerja tanpa aksi antagonis pada fragmen atas untuk abduktor dan fragmen distal untuk aduktor. Deformitas varus diakibatkan oleh kombinasi gaya ini.
e) Trauma arteri dan saraf jarang, tetapi mungkin terjadi (2)

TATALAKSANA

ü X.Ray
ü Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans
ü Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.
ü CCT kalau banyak kerusakan otot.
Penatalaksanaan fraktur ini mengalami banyak perubahan dalam waktu sepuluh tahun terakhir ini. Traksi dan spica casting atau cast bracing mempunyai banyak kerugian dalam hal memerlukan masa berbaring dan rehabilitasi yang lama, meskipun merupakan penatalaksanaan non-invasif pilihan untuk anak-anak. Oleh karena itu, tindakan ini tidak banyak dilakukan pada
orang dewasa (4).
Bila keadaan penderita stabil dan luka telah diatasi, fraktur dapat diimobilisasi dengan salah satu dan empat cara berikut ini:
1) Traksi.
2) Fiksasi interna.
3) Fiksasi eksterna.
4) Cast bracing

Traksi

Penyembuhan fraktur bertujuan mengembalikan fungsi tulang yang patah dalam jangka waktu sesingkat mungkin
Metode Pemasangan traksi:
Traksi Manual
Tujuan : Perbaikan dislokasi, Mengurangi fraktur, Pada keadaan Emergency. Dilakukan dengan menarik bagian tubuh.
Traksi Mekanik
Ada dua macam, yaitu :
Traksi Kulit
Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk struktur yang lain, misalnya: otot. Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5 kg. Untuk anak-anak waktu beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai fraksi definitif, bila tidak diteruskan dengan pemasangan gips.
Traksi Skeletal
Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction. Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal atau penjepit melalui tulang/jaringan metal.

KEGUNAAN PEMASANGAN TRAKSI

Traksi yang dipasang pada leher, di tungkai, lengan atau panggul, kegunaannya :
ü Mengurangi nyeri akibat spasme otot
ü Memperbaiki dan mencegah deformitas
ü Immobilisasi
ü Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi).
ü Mengencangkan pada perlekatannya.
Comminuted fracture dan fraktur yang tidak sesuai untuk intramedullary nailing paling baik diatasi dengan manipulasi di bawah anestesi dan balanced sliding skeletal traction yang dipasang melalui tibial pin. Traksi longitudinal yang memadai diperlukan selama 24 jam untuk mengatasi spasme otot dan mencegah pemendekan, dan fragmen harus ditopang di posterior untuk mencegah peleng-kungan.
Enam belas pon biasanya cukup, tetapi penderita yang gemuk memerlukan beban yang lebih besar dari penderita yang kurus membutuhkan beban yang lebih kecil. Lakukan pemeriksaan radiologis setelah 24 jam untuk mengetahui apakah berat beban tepat; bila terdapat overdistraction, berat beban dikurangi, tetapi jika terdapat tumpang tindih, berat ditambah.
Pemeriksaan radiologi selanjutnya perlu dilakukan dua kali seminggu selama dua minggu yang pertama dan setiap minggu sesudahnya untuk memastikan apakah posisi dipertahankan. Jika hal ini tidak dilakukan, fraktur dapat terselip perlahan-lahan dan menyatu dengan posisi yang buruk.

MACAM – MACAM TRAKSI

Traksi Panggul Disempurnakan dengan pemasangan sebuah ikat pinggang di atas untuk mengikat puncak iliaka.
Traksi Ekstension (Buck’s Extention) Lebih sederhana dari traksi kulit dengan menekan lurus satu kaki ke dua kaki. Digunakan untuk immibilisasi tungkai lengan untuk waktu yang singkat atau untuk mengurangi spasme otot.
Traksi Cervikal Digunakan untuk menahan kepala extensi pada keseleo, kejang dan spasme. Traksi ini biasa dipasang dengan halter kepala.
Traksi Russell’s Traksi ini digunakan untuk frakstur batang femur. Kadang-kadang juga digunakan untuk terapi nyeri punggung bagian bawah. Traksi kulit untuk skeletal yang biasa digunakan. Traksi ini dibuat sebuah bagian depan dan atas untuk menekan kaki dengan pemasangan vertikal pada lutut secara horisontal pada tibia atau fibula.
Traksi khusus untuk anak-anak Penderita tidur terlentang 1-2 jam, di bawah tuberositas tibia dibor dengan steinman pen, dipasang staples pada steiman pen. Paha ditopang dengan thomas splint, sedang tungkai bawah ditopang atau Pearson attachment. Tarikan dipertahankan sampai 2 minggu atau lebih, sampai tulangnya membentuk callus yang cukup. Sementara itu otot-otot paha dapat dilatih secara aktif.

Fiksasi Interna

Intramedullary nail ideal untuk fraktur transversal, tetapi untuk fraktur lainnya kurang cocok. Fraktur dapat dipertahankan lurus dan terhadap panjangnya dengan nail, tetapi fiksasi mungkin tidak cukup kuat untuk mengontrol rotasi. Nailing diindikasikan jika hasil pemeriksaan radiologi memberi kesan bahwa jaringan lunak mengalami interposisi di antara ujung tulang karena hal ini hampir selalu menyebabkan non-union.
Keuntungan intramedullary nailing adalah dapat memberikan stabilitas longitudinal serta kesejajaran (alignment) serta membuat penderita dápat dimobilisasi cukup cepat untuk meninggalkan rumah sakit dalam waktu 2 minggu setelah fraktur. Kerugian meliput anestesi, trauma bedah tambahan dan risiko infeksi.
Closed nailing memungkinkan mobilisasi yang tercepat dengan trauma yang minimal, tetapi paling sesuai untuk fraktur transversal tanpa pemendekan. Comminuted fracture paling baik dirawat dengan locking nail yang dapat mempertahankan panjang dan rotasi.

Fiksasi Eksterna

Bila fraktur yang dirawat dengan traksi stabil dan massa kalus terlihat pada pemeriksaan radiologis, yang biasanya pada minggu ke enam, cast brace dapat dipasang. Fraktur dengan intramedullary nail yang tidak memberi fiksasi yang rigid juga cocok untuk tindakan ini (2).
KEPUSTAKAAN
1) Sjamsuhidajat R dan de Jong, Wim (Editor). Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.2005
2) Djoko Simbardjo. Fraktur Batang Femur. Dalam: Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Bagian Bedah FKUI.
3) Dandy DJ. Essential Orthopaedics and Trauma. Edinburg, London, Melborue, New York: Churchill Livingstone, 1989.
4) Salter/ Textbook of Disorders and injuries of the Musculoskeletal System. 2nd ed. Baltimore/London: Willians & Wilkins, 1983.
5) Rosenthal RE. Fracture and Dislocation of the Lower Extremity. In: Early Care of the Injured Patient, ed IV. Toronto, Philadelphia: B.C. Decker, 1990
Lanjout baca . . . . >>